Thursday, 9 June 2016

Operasi Odontektomi??

Apa sih operasi odontektomi? Terasa asing dengan istilah itu ketika pertama kali mendengarnya. Operasi pencabutan gigi geraham bungsu dalam istilah kedokteran disebut odontektomi. Saya akan bercerita mengenai pengalaman operasi odontektomi dengan impaksi 4 gigi.

Oktober 2013 gigi geraham bungsu kanan atas mulai tumbuh. Rasanya cenat-cenut, demam dan tiba-tiba pilek. Teteh sampai bingung dengan adiknya. Hampir seminggu ngga enak makan. Setelah itu ngga ada lagi rasa sakit sampai akhirnya gigi gerahamnya muncul sedikit demi sedikit. Gigi geraham bungsu kanan atas kembali berkontraksi ketika saya sedang mengerjakan soal pre-test online PPG (Pendidikan Profesi Guru) bulan Maret 2016. Cukup lama jedanya juga. Kondisi yang saya alami adalah saya merasa pusing dan sakit di kepala (kata dokter mah cephalgia), demam tinggi dan mendadak pilek juga seperti sebelumnya. Alhamdulillah saya masih bisa bertahan dan mengerjakan soal-soal sampai selesai. Malam harinya kondisi udah tidak menentu. Keesokan harinya saya langsung diantar ke poliklinik di kampus untuk periksa ke dokter gigi dan dokter umum. Hasil diagnosa dokter gigi adalah impaksi gigi dan harus menjalani operasi kalau mau sembuh. Sementara waktu dokter memberikan antibiotik dan pereda nyeri.

Kondisi sudah membaik, saya disarankan oleh adik sepupu untuk periksa ke Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut (RSKGM) yang berada di jalan R.E Martadinata. Hari pertama ke sana ditemani Teh Erma untuk mendaftar sebagai pasien baru poli bedah mulut minor. Mendengar nama polinya aja udah deg-degan. Ternyata pasien di poli ini banyak juga. saya menunggu hampir dua jam baru dipanggil oleh suster untuk di periksa dokter. Di dalam ruang periksa dokter bertanya keluhan yang saya rasakan dan juga memeriksa gigi geraham bungsu. Kemudian beliau memberikan surat rekomendasi untuk melakukan rontgen atau foto panoramic. Saya turun ke bagian radiologi, ternyata sudah tutup dan besok pagi saya kembali ke sana. Hari kedua di RSKGM, saya melakukan rontgen dan melepas semua benda yang mengandung logam. Setelah itu, petugas radiologi memperlihatkan hasilnya di monitor komputer. Woaaa... ternyata ada satu gigi geraham bungsu kiri bawah yang posisinya melintang. Menunggu lagi beberapa menit, hasil rontgen selesai dan di antar ke poli bedah mulut minor untuk mengetahui tindakan selanjutnya. Dokter menyarankan untuk melakukan operasi odontektomi pada 4 impaksi gigi geraham bungsu. Saat itu saya langsung menjawab "Iya", karena saya tidak mau lagi merasakan sakit kepala yang terus-menerus dan cenat-cenut di gigi. Operasi ini dapat dilakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), karena akan dilakukan prosedur bius total. 

Selanjutnya adalah mengurusi pindah faskes BPJS. Dokter sempat menyarankan menggunakan BPJS saja bila ada, karena biaya operasi yang dikeluarkan lumayan mahal. Hari iru juga saya langsung ke kantor BPJS Kota Bandung untuk pindah faskes. Prosedurnya juga ngga terlalu ribet dan akhirnya BPJS yang saya miliki dapat digunakan selama kuliah PPG di Bandung. Beberapa hari izin dari workshop SSP 1 dan akan berlanjut sampai selesai operasi. Pertengahan bulan April, saya ke puskesmas Sukarasa untuk meminta surat rekomendasi dari faskes tingkat 1 dan selanjutnya kembali ke RSKGM untuk mendapatkan rekomendasi perawatan di RSHS. Yeay... surat rekomendasi sudah ditangan dan perawatan beralih ke RSHS beberapa hari kemudian. Saya kembali ke asrama untuk meminta izin pada dosen pembimbing dan pengurus asrama. Selama saya rawat jalan, saya mengorbankan workshop selama 5 hari dan tidak mengikuti peerteaching siklus 1.

Hari pertama di RSHS, dapat nomor antrian di atas 600. Sekitar pukul 10.30 WIB baru mendapat panggilan untuk mendaftar di departemen bedah mulut. Di departemen bedah mulut juga dapat antrian panjang juga. Sabar nunggu. Saat itu ditemani oleh adiknya mama, jadi tidak terlalu sendiri kalau ada sesuatu hal. Setelah istirahat siang, saya baru dipanggil untuk di periksa. Dokternya menawarkan dua pilihan, yang pertama adalah operasi 4 gigi sekaligus dengan bius total dan pilihan kedua adalah operasi satu persatu gigi dengan bius lokal. Daripada saya memperbanyak izin ke asrama dan kampus, saya memilih operasi 4 gigi sekaligus dengan prosedur bius total. Kemudian dokter memberikan rujukan ke departemen radiologi untuk foto thorax dan laboratorium untuk tes hematologi 8 parameter.

Hari kedua, antriannya juga panjang. padahal saya sampai di sana sebelum pukul 7 pagi. Setelah pintu di buka, langsung ke laboratorium untuk di ambil sampel darah. Hasilnya dapat diambil pukul 3 sore. Pulang ke asrama dulu dan balik lagi ke sana ternyata hasilnya baru bisa di ambil besok. Hari ketiga, ambil hasil tes darah dan foto thorax, itupun dimarahin sama bagian radiologi karena hasil yang sebelumnya ngga ada. Hari keempat, paginya sempat datang ke kampus untuk mengikuti workshop beberapa jam saja. Karena jadwal pengambilan hasil juga pukul 11 siang. Setelah mengambil nomor antrian dan mendapat SEP, langsung ke departemen bedah mulut. Di sana antri lagi dan lagi. Okay! belajar sabar menunggu ya? Sampai teman saya ketiduran saking jenuhnya menunggu. Hehe. Sekitar pukul 13.30 WIB saya dipanggil dan menyerahkan hasil tes darah dan foto thorax. Kemudian dokter merekomendasikan ke poli anastesi. Dari lantai 3 langsung turun ke lantai satu, ambil SEP lagi dan menuju poli anastesi. Ternyata saya pasien terakhir di poli ini. Menunggu lagi, jangan bosen deh menunggu. Padahal udah jenuh banget. Lagi ngobrol-ngobrol, eh.. nama saya dipanggil sama suster. Saya di cek tekanan darah dan diberikan pengarahan untuk melepas semua benda logam di tubuh, tdak memakai make up saat operasi dan kuku juga harus di potong pendek. Setelah itu dipanggil lagi dan menemui dokter anastesi. Nah.. yang periksa tuh dokter residennya. Masih muda dan kece lho. Haha. Tak lama kemudian, dokter senior datang dan mengecek semua data yang sudah ditulis oleh dokter residen. Dokternya sampai bilang kalau baru ada pasien yang mau operasi terus senyum gitu. Kalau sedih juga untuk apa? lebih baik tersenyum untuk mengurangi beban. Hehe. Ini belum berakhir lho. Saya kembali ke lantai 3, tepatnya departemen bedah mulut untuk menyerahkan hasil dari poli anastesi. Jeng jreng.. penjadwalan operasi langsung dilakukan. Operasi di bulan April sudah penuh jadwalnya dan dijadwalkan tanggal 4 Mei 2016 untuk operasi. Nanti ada dokter yang menelepon untuk mengingatkan jadwal operasi.

Masih berminat membaca? Waahh.. ceritanya panjang juga. Hehehe

Dua minggu kemudian, Dokter di RSHS menelepon saya untuk mengingatkan kembali jadwal operasi dan kapan saya harus rawat inap di RS. Surat izin dari asrama sudah saya peroleh dan tanggal 3 Mei 2016 saya di antar menuju RSHS dengan perbekalan selama rawat inap. Setelah sampai di departemen bedah mulut, ternyata ruang rawat inap untuk operasi besok pagi belum mendapatkan ruangan. Kemudian dokter menyarankan untuk memundurkan jadwal operasi dan besok kembali lagi ke RSHS langsung ke instalasi rawat inap guna mencari ruangan. Jadwal operasi kembali di jadwalkan ulang tanggal 9 Mei 2016. Waahh.. hampir seminggu saya harus rawat inap. Lho operasi tanggal 9 Mei, kenapa harus di rawat inap sekarang? Memangnya ngga bisa pulang ke asrama dulu? Yupz.. pertanyaan itu terlontar dari teman-teman. Baiklah akan saya jelaskan juga secara tertulis di sini, meskipun sudah saya beri penjelasan langsung saat itu pada mereka dan ada saja yang tidak mengerti. Hmmm.

Saat itu ada libur long weekend mulai tanggal 5 Mei. Sedangkan operasional rumah sakit mulai hari senin-sabtu. Nah.. kebetulan liburnya dari hari kamis dan jumat, terus sabtu dan minggu libur. Otomatis dari hari rabu sore sudah dapat izin untuk rawat inap meskipun operasi hari senin tgl 9 Mei 2016. Kalau ngga ada long weekend, hari jumat mungkin bisa, dan jika saya tidak masuk hari itu, kemungkinan jadawal operasi akan diundur lagi. Semoga mereka paham dan saya yang merasakan sakitnya juga. Saya mulai rawat inap tanggal 4 Mei 2016. Selama di ruang rawat inap ngapain aja? Long weekend lho! Saya istirahat dari tugas SSP 2, meskipun kepikiran juga. Kegiatan tiap pagi dan sore di cek tensi darah dan suhu badan. Setengah tujuh pagi di kasih sarapan. Jam 8 pagi ada visitasi dari dokter bedah mulut. Jam 10 pagi di kasih snack dan dapat makan siang, snack sore, makan malam dan jam 8 malam juga dokter bedah mulut visitasi lagi. Begitulah rutinitas selama rawat inap sampai menjelang operasi. Hari kedua rawat inap harus tes darah lagi. Karena trombositnya rendah. Okay! paling takut lihat jarum suntik. Tapi mau ga mau harus terbiasa. Tutup mata deh, perawatnya hanya tersenyum. Hehe.

Satu hari sebelum operasi, teman-teman dari PPG PGSD UPI datang menjenguk secara bergantian. Beberapa di antara mereka saya suruh untuk menuliskan pesan pada note yang sudahsaya sediakan sebelumnya. Selain mereka juga ada dua adik tingkat sewaktu kuliah S1 di UPI Kampus Cibiru dan Teh Lia bersama Aa juga sempat menjenguk ke RSHS. Saat itu yang terpenting untuk saya adalah doa dan semangat dari orang-orang terdekat untuk kesembuhan saya. Malam harinya infus sudah di pasang di tangan kiri. Jam 4 pagi sudah mulai puasa sebelum operasi. Jujur berat badan udah susut beberapa kilogram menjelang operasi.

D-day, 9 Mei 2016. Salah satu teman saya menulis status di BBMnya "Jangan takut menghadapi hari Senin". Saya sudah siap untuk melaksanakan operasi odontektomi dan hari itu memang sudah saya tunggu. Bukan lagi meratapi, tapi harus dihadapi. Saya mendapat jadwal operasi ketiga pukul 13.00 WIB. Pukul 11.45 WIB saya di jemput oleh perawat untuk menuju ruang tunggu operasi. Saat itu Bulik (adiknya Mama) yang menemani saya. Mama memilih untuk tetap tinggal di ruang rawat. Sampainya di ruang tunggu operasi, saya berganti pakaian khusus untuk operasi dan berbaring di tempat tidur. Sekitar pukul 12.30 WIB tim dari farmasi menyuntikan sampel antibiotik di lengan kanan. Pukul 12.45 WIB, saya di jemput oleh dua asisten dokter yang bertugas untuk operasi odontektomi. Sambil berjalan menuju ruang operasi, dokter ngajak bercanda untuk membuat saya relax juga. Masuk ke ruang operasi tuh dingin dan steril. Saya berbaring di meja operasi sambil dipasang berbagai alat-alat yang saya tidak tahu namanya apa. Sebelum memulai anastesi, dokternya tanya ini dan itu sampai akhirnya saya tidak sadarkan diri selama operasi berlangsung 1,5 jam. Setelah operasi selesai, saya di bawa menuju ruang pemulihan dengan oksigen terpasang di hidung. Om dan Bulik langsung melihat saya di ruang pemulihan masih tertidur pulas. Kemudian, dokter memberikan 4 gigi geraham saya pada Om. Seingat saya pukul 14.45 WIB saya dibangunkan dan mulai sadar sedikit demi sedikit. Saya juga dipasangkan tanda "Fall risk" di gelang identitas pasien. Tak lama kemudian ada perawat yang datang menjemput saya untuk dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisi masih setengah sadar dan ada yang mengganjal di gusi.

Hal pertama yang saya cari ketika sampai di ruang rawat inap adalah Hp. Saya langsung memberi kabar kepada teman-teman di grup PPG PGSD kalau saya sudah selsai operasi dn sedang tahap pemulihan. Setelah itu koneksi internet mati. Kemudian Mama memberi tahu kalau ada beberapa teman kuliah yang datang menjenguk. Saya sempat berkomunikasi dengan mereka meski tidak terdengar jelas kata yang terucap dari mulut saya. Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar. Baru diperbolehkan minum setelah magrib dan malam harinya saya memuntahkan minuman yang sebelumnya saya minum. Rasanya mual dan tenggorokan juga agak perih. Menurut dokter itu efek dari anastesi dan intubasi. Pasti asing dengan istilah itu, jadi cari saja di google ya? hehe. Kalau yang sering menonton drama korea tentang kedokteran pasti tahu istilah itu. :D. Yeay... 10 Mei 2016, saya sudah dapat izin untuk keluar dari rumah sakit. Beberapa dokter juga di minta untuk menuliskan pesan dalam note yang sudah disediakan. Selama seminggu makan yang lembek dan 16 Mei 2016 resmi lepas jahitan dan belajar makan makanan yg lain.

Titin mengucapkan terimakasih untuk tim dokter bedah mulut di RSHS yang telah merawat saya sebelum dan pasca operasi, keluarga besar yang selalu support dan doanya juga utk kesembuhan saya. Mama dan Papa tercinta yang terus menguatkan untuk sabar dan ikhlas, meskipun Papa ngga menemani, doa beliau terus dipanjatkan untuk kesembuhan anak semata wayangnya. Teman-teman di asrama khususnya teman kelas PGSD yang sering saya repotkan untuk menemani rawat jalan ke RSKGM dn RSHS, Teh Esti, Erma, Pandu, Yono, Odong, Alex, Mba Asih, Ka Mely, Teh Rinrin, Mia, Mba Dewi Sukma, Mba Eka Yuli, Mba Eka L, Mba Tanti, Mas Sike untuk ice cream-ice creamnya and all family PPG UPI 2016. Thank you, Kamsahabnida chingu. Itulah cerita pengalaman saya operasi odontektomi. Sampai jumpa di cerita saya berikutnya seputar SM-3T dan PPG tentunya :D

3 comments:

  1. 13 juli saya jg d operasi yg sama dgn tempat yg sama. Doakan ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga lancar operasinya dan lekas sembuh.

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete