Saturday, 27 May 2017

We Are ARB (Anak Rantau Bandung)




Kami tidak sedang kampanye untuk pemilu, tapi kampanye kampus pada adik-adik kelas di SMA N Jatilawang. Anak Rantau Bandung atau di singkat menjadi ARB. Eitss.. bukan Abu Rizal Bakrie ya, teman-teman. Hehe.. Kenapa Anak Rantau Bandung? Karena kami kuliah di Bandung. Itu secara umum ya.. Penjelasan lebih lanjut bisa dibaca sampai akhir. Hehe

Kami merantau di Bandung untuk satu tujuan, yaitu melanjutan pendidikan di perguruan tinggi. Selepas menyelesaikan pendidikan pada jenjang SMA, tepatnya di SMA Negeri Jatilawang, beberapa di antara siswa yang lulus sudah diterima di perguruan tinggi ataupun sekolah tinggi yang berada di Kota Bandung.

Pada awalnya kami terasa asing dengan kota Bandung yang dominasi masyarakatnya berbahasa sunda. Seiring berjalannya waktu, kami mulai menyesuaikan diri dengan belajar bahasa sunda dengan teman-teman di kampus. Meski logat Banyumasan kadang masih ada. Lain halnya dengan saya sendiri, hehe. Karena saya dibesarkan di Bandung dan ga lancar berbahasa jawa, apalagi logat Banyumasan. Ketika kami bertemu dengan teman-teman satu daerah, woaa... Rasanya seneng banget. Karena bisa bebas pakai bahasa Banyumasan.

Kota Bandung memiliki cerita yang menarik bagi kami. Banyak pengalaman baru yang kami dapat sebagai anak rantau. Melakukan berbagai hal sendiri, dsb. Tak jarang kami merindukan masa kuliah ataupun kehidupan di kota kembang.


Thank to gatriana, reni, annisa, dan saya sendiri yg sudah berbagi cerita. Maaf semua serba dipersingkat. Hehe

Monday, 16 January 2017

PPG? What is that?

Hallo reader...


Saya akan bercerita tentang beberapa kegiatan yang dijalani selama menempuh Pendidikan Profesi Guru atau dikenal dengan PPG. Istilah PPG ini masih terdengar asing bagi teman-teman semua. PPG ini dilaksanakan selama 1 tahun. Peserta PPG berasal dari alumni SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) yang telah melaksanakan tugasnya selama 1 tahun di daerah 3T yang ada di Indonesia. Jadi, apa bedanya dengan PLPG (Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru)? Istilahnya saja yang berbeda, esensinya sama. PLPG diperuntukkan bagi guru yang sudah PNS untuk mendapatkan sertifikat sebagai pendidik profesional. Pelaksanaannya juga selama 10 hari.

Itu sedikit wawasan seputar PPG dan PLPG. Mari dilanjutkan dengan cerita saya selama hampir satu tahun menjadi peserta PPG Pasca SM-3T di LPTK UPI.


Maret 2016, saya mulai memasuki asrama di UPI (kebetulan ditempatkan di sini). Kenapa harus tinggal di asrama?  Karena empat kompetensi guru profesional harus terpenuhi semuanya, di antaranya adalah kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Kehidupan di asrama untuk menunjang kompetensi sosial dan kepribadian para calon guru profesional. Sedangkan kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional diperoleh ketika menjalani workshop dan PMM (Praktek Mengajar Mandiri).

Sebelum PPG di mulai, dari LPTK mengadakan orientasi selama 3 hari. Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan UPI kepada semua peserta PPG yang ditempatkan di UPI. Bagi mereka yang dulu kuliah di UPI juga menjadi tambahan pengetahuan tentang kampusnya sendiri. Selain itu juga dibekali mengenai kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan selama mengikuti PPG, baik yang dilaksanakan di kampus dan di asrama. Adakah Pre-test? Tentu saja ada. Pre-test secara online dilaksanakan serempak di seluruh LPTK penyelenggara PPG untuk semua prodi di seluruh Indonesia. Di setiap prodi juga dilaksanakan hal yang sama untuk melihat kemampuan awal dari semua peserta. Tangan saya sampai pegel ketika melaksanakan tes tertulis yang dibuat oleh prodi PGSD. 

Kegiatan yang dilaksanakan di asrama antara lain:
1. Pengajian setelah sholat Subuh yang dilaksanakan setiap hari.
2. Pengajian setelah sholat Magrib yang dilaksanakan setiap hari Senin dan Kamis.
3. Senam yang dilaksanakan setiap hari Minggu.
4. Public Speaking.
5. Belajar bersama untuk persiapan UTN (Ujian Tulis Negara).
6. KMD.
7. Lomba kebersihan asrama.
8. Pengembangan minat dan bakat.
Itu hanya sebagian kegiatan saja, karena masih banyak kegiatan yang lainnya.

Kegiatan asrama saja sudah padat, ditambah lagi dengan kegiatan workshop yang dilaksanakan di kampus dari hari Senin-Jumat mulai pukul 08.00-16.30 WIB. Luar biasa padat lho. Kesehatan tuh kunci utama. sebanyak apapun tugas yang diberikan, tetep harus bisa membagi waktu dan menjaga kesehatan juga. Supaya tidak keteteran juga nantinya. Selama workshop, kegiatan yang dilakukan adalah membuat perangkat pembelajaran yang akan digunakan saat PMM di sekolah. PMM dilaksanakan di tahun ajaran baru, tepatnya di semester ganjil selama empat bulan. Ketika PMM, peserta PPG didampingi juga oleh guru mitra/guru pamong yang akan membimbing ketika di sekolah. Di akhir PMM juga ada uji kinerja, meliputi penampilan ketika mengajar dan dalam pembuatan perangkat pembelajaran (RPP). Serta laporan PMM yang telah dilaksanakan oleh setiap peserta.

Bagaimana dengan PTK? PTK (Penelitian Tindakan Kelas) juga dilaksanakan ketika PMM. Hampir sama dengan skripsi ketika S1. Bagi saya, pembuatan PTK merupakan pengalaman pertama yang saya lakukan. Karena ketika skripsi tidak menggunakan PTK. Ujian sidangnya juga sama seperti dulu saat sidang skripsi.

Bagaimana dengan UTN? UTN atau Ujian Tulis Negara ini dilaksanakan secara online dan serempak untuk semua LPTK penyelenggara PPG se-Indonesia. UTN ini juga menentukan kelulusan PPG, selain ada penilaian kehidupan asrama serta Ujian Tulis Lokal yang dilaksanakan di setiap prodi. Nantinya nilai itu diakumulasikan menjadi nilai akhir.

Saya rasa sudah cukup ceritanya. Sampai jumpa ditulisan saya berikutnya :)

Thursday, 23 June 2016

KESAN PERTAMA MASUK ASRAMA PPG UPI



Bersyukur sekali bisa mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan profesi guru di UPI. Seperti pulang ke rumah kedua, Bandung. Meskipun saat menempuh S1 di UPI, tapi ini berbeda suasananya dengan kampus UPI yang berada di Cibiru. Kembali kuliah dan  harus berada di asrama bersama teman-teman yang baru dari berbagai program studi. Itu merupakan pengalaman baru yang akan dijalani selama satu tahun ke depan sebagai keluarga baru. Beradaptasi dengan teman sekamar yang memiliki beragam kebiasaan dan memaklumi seiring berjalannya waktu.

Kebiasaan barupun muncul karena kegiatan asrama yang harus kita ikuti sebagai mahasiswa PPG. Mulai dari makan bersama dalam satu ruangan yang sama, solat subuh berjamaah setiap harinya, solat magrib berjamaah setiap hari senin dan kamis, serta mencatat kajian subuh dan magrib. Menuntut bangun  lebih pagi dari kebiasaaan kita sebelumnya ketika berada di rumah dan harus sabar mengantri kamar mandi. Awalnya terasa berat, lama kelamaan menjadi terbiasa juga. Namun udara dinginnya Bandung ketika pagi hari itu begitu menusuk. Tak jarang beberapa di antara kita yang terkena flu ataupun batuk karena perubahan cuaca. Termasuk saya sendiri mengalami hal tersebut. Terbiasa dengan udara yang hangat, sekarang menghadapi udara dingin. Sempat mengeluh juga karena mendapat kamar di lantai 3. Capek naik-turun tangga dan membuat sesak untuk bernafas. Beberapa hari di evakuasi ke lantai satu untuk mendapat perawatan dari teman-teman. Sampai akhirnya bisa kembali menempati kamar di lantai 3 dengan usaha transit sejenak di lantai 2.

Friday, 10 June 2016

Holiday: Trip to Alor Island


Setelah nilai-nilai selesai ditulis di rapot dan dibagikan pada murid-murid. Saya sudah bersiap-siap untuk berlibur menuju kota Kupang. Kebetulan liburan semester genap bertepatan dengan bulan ramadhan, jadi ketika beribadah tidak kesulitan untuk mencari mesjid. Berbeda ketika menjalankan ibadah di tempat tugas yang jauh dari mesjid. Tapi ibadah tetep berjalan ko meski jauh dari mesjid juga :D. Setelah sampai di kota, mulai deh merencanakan liburan. ada beberapa pilihan yang diajukan oleh teman-teman untuk mengisi waktu liburan. Trip to Komodo Island or Alor Island?? pilihan yang dilematis, hehe. Bahkan ada yang merencanakan untuk jelajah NTB sekalian naik ke Gunung Rinjani. Wooo....


Dulu memang pengen ke Pulau Komodo, tapi ketika saya di kirim beberapa foto dari teman yang sebelumnya ikut ekspedisi nusantara 2015 di Pulau Alor, rasanya pengen ke sana juga. pesen tiket juga mendadak, karena sempet galau mau ikut ke Pulau Komodo atau ke Pulau Alor. dengan kemantapan hati pilih ke Pulau Alor.


Liburan ke Pulau Alor bertepatan dengan menjalankan ibadah puasa. Kapal menuju Alor berangkat pukul 6 pagi. Jadi kita kumpul satu hari sebelumnya setelah ashar untuk belanja makan selama di perjalanan. Liburan kali ini saya bersama Kang Reza F, Kang Irfan, Mas Wiro, Teh Ela, Teh Resa dan Mba Duwi. Setelah berbelanja dan buka puasa bersama, kami juga beli makanan untuk sahur besok pagi di salah satu restoran cepat saji. lalu kami menginap di mana malam ini? Jangan kaget ya? Kami semua langsung menuju pelabuhan Tenau dan menginap di sana. Tadinya tidur di tempat duduk yang ada di luar, tapi ada satpam yang mengizinkan kami untuk tidur di ruang tunggu pelabuhan sampai pagi. Sebenarnya kapal yang akan membawa kami menuju Alor sudah bersandar sejak pukul 3 pagi. Kami makan sahur dan solat subuh terlebih dahulu, baru deh menuju kapal. Sebelum menaiki kapal foto-foto dulu. Haha.. Mengabadikan momen kalau liburan kami di mulai.

Sekitar pukul setengah tujuh pagi, kapal melaju meninggalkan pelabuhan dan bergerak menuju pelabuhan Kalabahi, Alor. Selama hampir 12 jam perjalanan kami terapung di tengah laut. Lumayan lama dan jenuh, untuk itu kami naik ke bagian atas untuk menikmati pemandangan laut yang biru dan udara segar sambil foto dan bermain kartu UNO. Mas Wiro yang baru pertama kali bermain kartu UNO langsung mengalahkan kami yang sebelumnya sudah bermain kartu UNO. Hahaha. Tak terasa kapal akan segera sandar di pelabuhan dan adzan magrib juga sudah berkumandang. Yeay... Alhamdulillah. Begitu keluar dari pelabuhan, kami langsung menuju rumah makan sesuai dengan arahan dari teman kuliah Mba Duwi yang sekarang tugas SM-3T di Pulau Alor. Kami makan dulu dan tak lama kemudian sudah dijemput oleh temannya Mba Duwi, namanya Mas Narto. Selama liburan di Alor, kami tinggal di basecamp SM-3T UNY. Kebetulan semua sedang berkumpul juga, seru jadinya. Kami bertemu dengan teman seperjuangan dan berbagi cerita juga selama di tempat tugas.

Hari pertama di Alor, kami menuju Pulau Kepa di Alor Kecil. Tidak hanya Mba Duwi yang bertemu dengan temannya. Saya juga bertemu dengan kenalan teman saya juga, namanya Mba Maryam. Jadi saya diperkenalkan dengan Mba Maryam itu dari Kang Uje yang sebelumnya mengikuti Ekspedisi Nusantara 2015 di Pulau Alor dan bertemu dengan Mba Maryam. Begitulah ceritanya. Yuk lanjut lagi cerita waktu di Alor. Di Pulau Kepa selain menikmati keindahan alamnya juga tetep foto-foto. Hehe. Terus lanjut untuk solat duhur sekalian mampir melihat Al Quran yang tertua di Alor Besar. Kemudian ke pantai sabanjar untuk snorkling. Waahhh... lagi puasa snorkling? Iya, kami tetep lanjut snorkling. Hehe. Sampai kaki saya lecet, tetap menikmati liburan dong. Begitu adzan magrib berkumandang, kami bergegas mencari tempat untuk berbuka puasa. Secara bergantian ada yang mandi juga. Saya ditemani Kang Irfan dan Mba Maryam menuju apotek mencari antiseptic untuk membersihkan luka di kaki. Setelah itu langsung mandi dan menuju tempat makan. Karena lelah abis snorkling, porsi makan melejit, haha. Ampun deh sampai nambah nasi juga, tapi nasi punya temen ko.

Hari kedua, Kami berkunjung ke Kampung Adat Takpala di Alor Tengah Utara dan air mancur tuti adagae. Di kampung adat Takpala, kami mencoba baju adat juga. Berfoto tak boleh ketinggalan selama liburan. Hehe. Kami juga melihat nekara dan moko yang ada di sana. Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju air mancur tuti adagae. Air mancurnya hangat, lumayan untuk relaksasi dengan merendam kaki.

Hari ketiga sekaligus hari terakhir kami berlibur di Alor, kami ke museum 1000 moko sekalian berbelanja oleh-oleh khas Pulau Alor, ada tenun, jagung titi, kue rambut dan kacang kenari. Menjelang magrib, kami berpamitan kepada teman-teman SM-3T dari LPTK UNY dan terima kasih sudah menemani kami berlibur di Alor. Sampai jumpa di Pulau Jawa dan kami pamit kembali menuju kota Kupang. Berikut foto-foto selama liburan di Alor.







Thursday, 9 June 2016

Operasi Odontektomi??

Apa sih operasi odontektomi? Terasa asing dengan istilah itu ketika pertama kali mendengarnya. Operasi pencabutan gigi geraham bungsu dalam istilah kedokteran disebut odontektomi. Saya akan bercerita mengenai pengalaman operasi odontektomi dengan impaksi 4 gigi.

Oktober 2013 gigi geraham bungsu kanan atas mulai tumbuh. Rasanya cenat-cenut, demam dan tiba-tiba pilek. Teteh sampai bingung dengan adiknya. Hampir seminggu ngga enak makan. Setelah itu ngga ada lagi rasa sakit sampai akhirnya gigi gerahamnya muncul sedikit demi sedikit. Gigi geraham bungsu kanan atas kembali berkontraksi ketika saya sedang mengerjakan soal pre-test online PPG (Pendidikan Profesi Guru) bulan Maret 2016. Cukup lama jedanya juga. Kondisi yang saya alami adalah saya merasa pusing dan sakit di kepala (kata dokter mah cephalgia), demam tinggi dan mendadak pilek juga seperti sebelumnya. Alhamdulillah saya masih bisa bertahan dan mengerjakan soal-soal sampai selesai. Malam harinya kondisi udah tidak menentu. Keesokan harinya saya langsung diantar ke poliklinik di kampus untuk periksa ke dokter gigi dan dokter umum. Hasil diagnosa dokter gigi adalah impaksi gigi dan harus menjalani operasi kalau mau sembuh. Sementara waktu dokter memberikan antibiotik dan pereda nyeri.

Kondisi sudah membaik, saya disarankan oleh adik sepupu untuk periksa ke Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut (RSKGM) yang berada di jalan R.E Martadinata. Hari pertama ke sana ditemani Teh Erma untuk mendaftar sebagai pasien baru poli bedah mulut minor. Mendengar nama polinya aja udah deg-degan. Ternyata pasien di poli ini banyak juga. saya menunggu hampir dua jam baru dipanggil oleh suster untuk di periksa dokter. Di dalam ruang periksa dokter bertanya keluhan yang saya rasakan dan juga memeriksa gigi geraham bungsu. Kemudian beliau memberikan surat rekomendasi untuk melakukan rontgen atau foto panoramic. Saya turun ke bagian radiologi, ternyata sudah tutup dan besok pagi saya kembali ke sana. Hari kedua di RSKGM, saya melakukan rontgen dan melepas semua benda yang mengandung logam. Setelah itu, petugas radiologi memperlihatkan hasilnya di monitor komputer. Woaaa... ternyata ada satu gigi geraham bungsu kiri bawah yang posisinya melintang. Menunggu lagi beberapa menit, hasil rontgen selesai dan di antar ke poli bedah mulut minor untuk mengetahui tindakan selanjutnya. Dokter menyarankan untuk melakukan operasi odontektomi pada 4 impaksi gigi geraham bungsu. Saat itu saya langsung menjawab "Iya", karena saya tidak mau lagi merasakan sakit kepala yang terus-menerus dan cenat-cenut di gigi. Operasi ini dapat dilakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), karena akan dilakukan prosedur bius total. 

Selanjutnya adalah mengurusi pindah faskes BPJS. Dokter sempat menyarankan menggunakan BPJS saja bila ada, karena biaya operasi yang dikeluarkan lumayan mahal. Hari iru juga saya langsung ke kantor BPJS Kota Bandung untuk pindah faskes. Prosedurnya juga ngga terlalu ribet dan akhirnya BPJS yang saya miliki dapat digunakan selama kuliah PPG di Bandung. Beberapa hari izin dari workshop SSP 1 dan akan berlanjut sampai selesai operasi. Pertengahan bulan April, saya ke puskesmas Sukarasa untuk meminta surat rekomendasi dari faskes tingkat 1 dan selanjutnya kembali ke RSKGM untuk mendapatkan rekomendasi perawatan di RSHS. Yeay... surat rekomendasi sudah ditangan dan perawatan beralih ke RSHS beberapa hari kemudian. Saya kembali ke asrama untuk meminta izin pada dosen pembimbing dan pengurus asrama. Selama saya rawat jalan, saya mengorbankan workshop selama 5 hari dan tidak mengikuti peerteaching siklus 1.

Hari pertama di RSHS, dapat nomor antrian di atas 600. Sekitar pukul 10.30 WIB baru mendapat panggilan untuk mendaftar di departemen bedah mulut. Di departemen bedah mulut juga dapat antrian panjang juga. Sabar nunggu. Saat itu ditemani oleh adiknya mama, jadi tidak terlalu sendiri kalau ada sesuatu hal. Setelah istirahat siang, saya baru dipanggil untuk di periksa. Dokternya menawarkan dua pilihan, yang pertama adalah operasi 4 gigi sekaligus dengan bius total dan pilihan kedua adalah operasi satu persatu gigi dengan bius lokal. Daripada saya memperbanyak izin ke asrama dan kampus, saya memilih operasi 4 gigi sekaligus dengan prosedur bius total. Kemudian dokter memberikan rujukan ke departemen radiologi untuk foto thorax dan laboratorium untuk tes hematologi 8 parameter.

Hari kedua, antriannya juga panjang. padahal saya sampai di sana sebelum pukul 7 pagi. Setelah pintu di buka, langsung ke laboratorium untuk di ambil sampel darah. Hasilnya dapat diambil pukul 3 sore. Pulang ke asrama dulu dan balik lagi ke sana ternyata hasilnya baru bisa di ambil besok. Hari ketiga, ambil hasil tes darah dan foto thorax, itupun dimarahin sama bagian radiologi karena hasil yang sebelumnya ngga ada. Hari keempat, paginya sempat datang ke kampus untuk mengikuti workshop beberapa jam saja. Karena jadwal pengambilan hasil juga pukul 11 siang. Setelah mengambil nomor antrian dan mendapat SEP, langsung ke departemen bedah mulut. Di sana antri lagi dan lagi. Okay! belajar sabar menunggu ya? Sampai teman saya ketiduran saking jenuhnya menunggu. Hehe. Sekitar pukul 13.30 WIB saya dipanggil dan menyerahkan hasil tes darah dan foto thorax. Kemudian dokter merekomendasikan ke poli anastesi. Dari lantai 3 langsung turun ke lantai satu, ambil SEP lagi dan menuju poli anastesi. Ternyata saya pasien terakhir di poli ini. Menunggu lagi, jangan bosen deh menunggu. Padahal udah jenuh banget. Lagi ngobrol-ngobrol, eh.. nama saya dipanggil sama suster. Saya di cek tekanan darah dan diberikan pengarahan untuk melepas semua benda logam di tubuh, tdak memakai make up saat operasi dan kuku juga harus di potong pendek. Setelah itu dipanggil lagi dan menemui dokter anastesi. Nah.. yang periksa tuh dokter residennya. Masih muda dan kece lho. Haha. Tak lama kemudian, dokter senior datang dan mengecek semua data yang sudah ditulis oleh dokter residen. Dokternya sampai bilang kalau baru ada pasien yang mau operasi terus senyum gitu. Kalau sedih juga untuk apa? lebih baik tersenyum untuk mengurangi beban. Hehe. Ini belum berakhir lho. Saya kembali ke lantai 3, tepatnya departemen bedah mulut untuk menyerahkan hasil dari poli anastesi. Jeng jreng.. penjadwalan operasi langsung dilakukan. Operasi di bulan April sudah penuh jadwalnya dan dijadwalkan tanggal 4 Mei 2016 untuk operasi. Nanti ada dokter yang menelepon untuk mengingatkan jadwal operasi.

Masih berminat membaca? Waahh.. ceritanya panjang juga. Hehehe

Dua minggu kemudian, Dokter di RSHS menelepon saya untuk mengingatkan kembali jadwal operasi dan kapan saya harus rawat inap di RS. Surat izin dari asrama sudah saya peroleh dan tanggal 3 Mei 2016 saya di antar menuju RSHS dengan perbekalan selama rawat inap. Setelah sampai di departemen bedah mulut, ternyata ruang rawat inap untuk operasi besok pagi belum mendapatkan ruangan. Kemudian dokter menyarankan untuk memundurkan jadwal operasi dan besok kembali lagi ke RSHS langsung ke instalasi rawat inap guna mencari ruangan. Jadwal operasi kembali di jadwalkan ulang tanggal 9 Mei 2016. Waahh.. hampir seminggu saya harus rawat inap. Lho operasi tanggal 9 Mei, kenapa harus di rawat inap sekarang? Memangnya ngga bisa pulang ke asrama dulu? Yupz.. pertanyaan itu terlontar dari teman-teman. Baiklah akan saya jelaskan juga secara tertulis di sini, meskipun sudah saya beri penjelasan langsung saat itu pada mereka dan ada saja yang tidak mengerti. Hmmm.

Saat itu ada libur long weekend mulai tanggal 5 Mei. Sedangkan operasional rumah sakit mulai hari senin-sabtu. Nah.. kebetulan liburnya dari hari kamis dan jumat, terus sabtu dan minggu libur. Otomatis dari hari rabu sore sudah dapat izin untuk rawat inap meskipun operasi hari senin tgl 9 Mei 2016. Kalau ngga ada long weekend, hari jumat mungkin bisa, dan jika saya tidak masuk hari itu, kemungkinan jadawal operasi akan diundur lagi. Semoga mereka paham dan saya yang merasakan sakitnya juga. Saya mulai rawat inap tanggal 4 Mei 2016. Selama di ruang rawat inap ngapain aja? Long weekend lho! Saya istirahat dari tugas SSP 2, meskipun kepikiran juga. Kegiatan tiap pagi dan sore di cek tensi darah dan suhu badan. Setengah tujuh pagi di kasih sarapan. Jam 8 pagi ada visitasi dari dokter bedah mulut. Jam 10 pagi di kasih snack dan dapat makan siang, snack sore, makan malam dan jam 8 malam juga dokter bedah mulut visitasi lagi. Begitulah rutinitas selama rawat inap sampai menjelang operasi. Hari kedua rawat inap harus tes darah lagi. Karena trombositnya rendah. Okay! paling takut lihat jarum suntik. Tapi mau ga mau harus terbiasa. Tutup mata deh, perawatnya hanya tersenyum. Hehe.

Satu hari sebelum operasi, teman-teman dari PPG PGSD UPI datang menjenguk secara bergantian. Beberapa di antara mereka saya suruh untuk menuliskan pesan pada note yang sudahsaya sediakan sebelumnya. Selain mereka juga ada dua adik tingkat sewaktu kuliah S1 di UPI Kampus Cibiru dan Teh Lia bersama Aa juga sempat menjenguk ke RSHS. Saat itu yang terpenting untuk saya adalah doa dan semangat dari orang-orang terdekat untuk kesembuhan saya. Malam harinya infus sudah di pasang di tangan kiri. Jam 4 pagi sudah mulai puasa sebelum operasi. Jujur berat badan udah susut beberapa kilogram menjelang operasi.

D-day, 9 Mei 2016. Salah satu teman saya menulis status di BBMnya "Jangan takut menghadapi hari Senin". Saya sudah siap untuk melaksanakan operasi odontektomi dan hari itu memang sudah saya tunggu. Bukan lagi meratapi, tapi harus dihadapi. Saya mendapat jadwal operasi ketiga pukul 13.00 WIB. Pukul 11.45 WIB saya di jemput oleh perawat untuk menuju ruang tunggu operasi. Saat itu Bulik (adiknya Mama) yang menemani saya. Mama memilih untuk tetap tinggal di ruang rawat. Sampainya di ruang tunggu operasi, saya berganti pakaian khusus untuk operasi dan berbaring di tempat tidur. Sekitar pukul 12.30 WIB tim dari farmasi menyuntikan sampel antibiotik di lengan kanan. Pukul 12.45 WIB, saya di jemput oleh dua asisten dokter yang bertugas untuk operasi odontektomi. Sambil berjalan menuju ruang operasi, dokter ngajak bercanda untuk membuat saya relax juga. Masuk ke ruang operasi tuh dingin dan steril. Saya berbaring di meja operasi sambil dipasang berbagai alat-alat yang saya tidak tahu namanya apa. Sebelum memulai anastesi, dokternya tanya ini dan itu sampai akhirnya saya tidak sadarkan diri selama operasi berlangsung 1,5 jam. Setelah operasi selesai, saya di bawa menuju ruang pemulihan dengan oksigen terpasang di hidung. Om dan Bulik langsung melihat saya di ruang pemulihan masih tertidur pulas. Kemudian, dokter memberikan 4 gigi geraham saya pada Om. Seingat saya pukul 14.45 WIB saya dibangunkan dan mulai sadar sedikit demi sedikit. Saya juga dipasangkan tanda "Fall risk" di gelang identitas pasien. Tak lama kemudian ada perawat yang datang menjemput saya untuk dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisi masih setengah sadar dan ada yang mengganjal di gusi.

Hal pertama yang saya cari ketika sampai di ruang rawat inap adalah Hp. Saya langsung memberi kabar kepada teman-teman di grup PPG PGSD kalau saya sudah selsai operasi dn sedang tahap pemulihan. Setelah itu koneksi internet mati. Kemudian Mama memberi tahu kalau ada beberapa teman kuliah yang datang menjenguk. Saya sempat berkomunikasi dengan mereka meski tidak terdengar jelas kata yang terucap dari mulut saya. Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar. Baru diperbolehkan minum setelah magrib dan malam harinya saya memuntahkan minuman yang sebelumnya saya minum. Rasanya mual dan tenggorokan juga agak perih. Menurut dokter itu efek dari anastesi dan intubasi. Pasti asing dengan istilah itu, jadi cari saja di google ya? hehe. Kalau yang sering menonton drama korea tentang kedokteran pasti tahu istilah itu. :D. Yeay... 10 Mei 2016, saya sudah dapat izin untuk keluar dari rumah sakit. Beberapa dokter juga di minta untuk menuliskan pesan dalam note yang sudah disediakan. Selama seminggu makan yang lembek dan 16 Mei 2016 resmi lepas jahitan dan belajar makan makanan yg lain.

Titin mengucapkan terimakasih untuk tim dokter bedah mulut di RSHS yang telah merawat saya sebelum dan pasca operasi, keluarga besar yang selalu support dan doanya juga utk kesembuhan saya. Mama dan Papa tercinta yang terus menguatkan untuk sabar dan ikhlas, meskipun Papa ngga menemani, doa beliau terus dipanjatkan untuk kesembuhan anak semata wayangnya. Teman-teman di asrama khususnya teman kelas PGSD yang sering saya repotkan untuk menemani rawat jalan ke RSKGM dn RSHS, Teh Esti, Erma, Pandu, Yono, Odong, Alex, Mba Asih, Ka Mely, Teh Rinrin, Mia, Mba Dewi Sukma, Mba Eka Yuli, Mba Eka L, Mba Tanti, Mas Sike untuk ice cream-ice creamnya and all family PPG UPI 2016. Thank you, Kamsahabnida chingu. Itulah cerita pengalaman saya operasi odontektomi. Sampai jumpa di cerita saya berikutnya seputar SM-3T dan PPG tentunya :D

Wednesday, 8 June 2016

Holiday: Goes To Flores

Libur Paskah?? Woa... udah liburan lagi nih! hehe... liburan kali ini saya melancong ke Pulau Flores. Mau tau ke mana saja tempat yang saya kunjungi bersama teman-teman? Stay here and read till the end. Hehe
Rencana berlibur ke Pulau Flores itu sudah ada sejak kami hendak kembali bertugas seusai libur Natal dan Tahun Baru 2015. Ketika rencana itu hendak direalisasikan, terkendala dengan keuangan. Karena uang saku kami tertunda pengirimannya hingga liburan Paskah. Kami berangkat dengan uang pas-pasan dan alhamdulillah Pemprov NTT menyediakan satu kapal fery untuk mengangkut umat katolik yang hendak mengikuti prosesi Paskah di Kota Larantuka, Pulau Flores. Salah satu dari kami mencoba untuk mendaftar ke rumah dinas Gubernur NTT untuk menanyakan kuota dan akhirnya kita dapat berangkat menggunakan kapal tersebut bersama ratusan umat katolik. Modal nekat kami tidak berhenti di sana. Ketika di kapal juga sempat berkenalan dengan salah satu reporter Kompas Tv yang hendak meliput prosesi Paskah di Larantuka. Ketika ditanya mau menginap di mana? Kami masih bingung hendak menginap di mana. 
Perjalanan dari Kupang menuju Larantuka ditempuh dalam waktu 12 jam. Menjelang subuh, saya menemani teman yang hendak melaksanakan solat di musola kapal. setelah itu ada dua orang bapak yang bertanya kepada kami. sepertinya beliau tahu kalau kami baru pertama kalinya ke Larantuka. Beliau bertanya, "ada acara apa ke Larantuka? Adeik-adik dari mana asalnya? Nanti mau menginap di mana selama di Larantuka?" Kemudian kami menjawab, "Kami adalah Guru SM-3T yang ditempatkan di Kabupaten Kupang yang berasal dari Pulau Jawa. Kami hendak liburan Paskah dan melihat prosesi Paskah yang ada di Larantuka dan berlibur ke beberapa kota di Pulau Flores, untuk penginapan kami belum tahu hendak menginao di mana. Meskipun ada teman kami yang bertugas juga di Flores Timur". Setelah obrolan itu, beliau langsung menelepon kerabatnya yang ada di Kota Larantuka untuk mengizinkan kami tinggal di sana selama liburan di Larantuka. Alhamdulillah.. tak henti-henti kami bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh-Nya.
Selama beberapa hari kami di Larantuka, keluarga Abah dan Umi dengan senang hati menerima kami seperti keluarganya. Beliau juga memberi banyak informasi seputar perayaan Paskah dan informasi mengenai kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain di Pulau Flores. Perayaan Paskah yang saya lihat sangat ramai. Saya sebagai seorang muslim melihat toleransi antar umat beragama yang baik wilayah Nusa Tenggara Timur. Umat Kristiani menjalankan ibadahnya dengan khidmat dan umat non kristiani menjaga keamaan selama berlangsungnya prosesi tersebut. Begitu juga sebaliknya ketika Umat Islam merayakan Idul Fitri, mereka bergantian menjaga keamaan supaya berlangsung dengan khidmat. Ini Indonesia dengan multi Agama, Bahasa, Suku dan Budaya. Indahnya kebersamaan dalam keberagaman. Saya bersyukur dapat berinteraksi dengan mereka dan merasakan tinggal di tengah perbedaan itu.
Okay! Selain melihat prosesi Paskah, kami juga bertemu dengan teman-teman seperjuangan SM-3T penempatan Flores Timur dari LPTK UNTAN dan UNIMA. Ada juga teman-teman dari UNNES yang sedang berlibur juga ke Larantuka. total ada 5 LPTK yang berkumpul dalam rangka liburan dan menjalis silaturahmi, UPI, UNJ, UNTAN, UNIMA dan UNNES... Yeah.. We are Big Family of SM-3T 2014. We also meet up with Abdur Arsyad parent's in his house. 



Perjalanan berlanjut menuju Kota Ende. Yeah... Selama di Ende juga kami menginap di rumah kerabatnya Abah dan Umi. Di Ende kami menuju rumah pengasingan Bung Karno, Taman Perenungan Pancasila, Danau 3 warna. Setelah itu lanjut ke Kabupaten Sikka. terpana dengan hamparan biru laut yang menyejukkan pandangan mata di Pantai Koka, Maumere dan kembali lagi ke Larantuka untuk menunggu kapal fery yang menuju Kupang. Liburan selama 10 hari dengan modal nekat dan keuangan terbatas dapat teratasi. Kami kembali menuju tempat tugas masing-masing dan sampai berjumpa di cerita liburan berikutnya. sebelumnya saya akan memperlihatkan beberapa foto selama berada di Pulau Flores. Bye bye.

taman perenungan pancasila

rumah pengasingan Bung Karno

Danau 3 Warna

Pantai Koka, Maumere




Tuesday, 7 June 2016

Holiday : Pulau Semau

 
Libur telah tiba dan saya bergegas menuju ke kota. Liburan untuk melepas penat dengan aktifitas mengajar dsb. Ketika murid di sekolah libur, Ibu dan Bapak guru ju ikut libur. Hehe.. Ini sepenggal kisah liburan semester pertama di bulan Desember 2014. Kami para Guru SM-3T berkumpul di LPMP untuk membahas acara seminar. Namun karena satu dan lain hal, acara tersebut dibatalkan. Akhirnya kami melanjutkan liburan semester yang juga bertepatan dengan libur Natal dan Tahun Baru 2015. Beberapa di antaranya ada yang berlibur ke perbatasan Indonesia-Timor Leste di Atambua, ada yang memilih tinggal di kota Kupang dan saya bersama teman yang lain berlibur ke Pulau Semau. 
Perjalanan menuju Pulau Semau menggunakan perahu dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dari pelabuhan tenau. Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 20.000,00 tiap orang, bila membawa sepeda motor dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 30.000,00. Selama di Pulau Semau, saya tinggal di rumah yang ditempati oleh Bapak Edyana dan Bapak Wiro yang bertugas di sana. Ketika kami bertugas di daerah 3T, ini salah satu dari bonus bagi kami untuk dapat menjelajahi wilayah Indonesia khususnya Nusa Tenggara Timur. Mari Kita lihat pesona keindahan alam yang disajikan di Pulau Semau.