Sunday, 26 October 2014

Biulnoni

Baru beberapa minggu tinggal di Siumolo, Kecamatan Fatuleu Barat, akupang, saya mendapat undangan pesta pernikahan dari salah satu rekan guru di sekolah. Pesta pernikahan tersebut beliau adakan untuk adiknya. Beberapa hari sebelum pesta, saya dilatih untuk berdansa. Karena ini pertama kalinya untuk saya, jadi saya memperhatikan dengan sungguh - sungguh gerakan dansanya.

Acara pesta di buka dengan polonice (semoga tulisannya benar). Polonice ini harus berpasangan laki-laki dengan perempuan. Pasangan berurutan dari pengantin, keluarga serta kerabat. Siapapun pasangannya, kalau sudah dipanggil untuk polonice harus mau. Malam itu, saya dipasangkan dengan rekan guru SM-3T juga, namun karena ada sesuatu hal jadi dibatalkan dan diganti dengan adik Bapak Kepala Desa Nuataus. Ibu bidan Hasryah dan Ibu Suci juga ikut polonice. Ibu bidan berpasangan dengan Bapak Kepala Desa Nuataus, sedangkan Ibu Suci berpasangan dengan Bapak Pendeta Dony. Pengalaman pertama untuk berdansa, sedikit kaku juga. Hehehe

Setelah itu, baru biulnoni. Biulnoni merupakan uang yang ditaruh pada lidi yang ditancapkan di atas kepala pengantin perempuan. Semua keluarga berkeliling sambil menari membuat lingkaran. Ini khusus untuk keluarga, namun bila ada anggota keluarga yang memberikan selendang kepada tamu,, maka orang tersebut harus memberikan uang kepada pengantin dengan cara yang tadi. Saya termasuk orang yg diberikan selendang oleh keluarga pengantin. Repotnya pas ngga ada uang ribuan. Jadi dipinjamkan dulu sama istri Bapak mantan kepala desa.

Selain polonice dan biulnoni juga ada acara dansa dan dugem. Saya menghadri pesta sampai pukul 01.00

4 comments: