Wednesday, 8 June 2016

Holiday: Goes To Flores

Libur Paskah?? Woa... udah liburan lagi nih! hehe... liburan kali ini saya melancong ke Pulau Flores. Mau tau ke mana saja tempat yang saya kunjungi bersama teman-teman? Stay here and read till the end. Hehe
Rencana berlibur ke Pulau Flores itu sudah ada sejak kami hendak kembali bertugas seusai libur Natal dan Tahun Baru 2015. Ketika rencana itu hendak direalisasikan, terkendala dengan keuangan. Karena uang saku kami tertunda pengirimannya hingga liburan Paskah. Kami berangkat dengan uang pas-pasan dan alhamdulillah Pemprov NTT menyediakan satu kapal fery untuk mengangkut umat katolik yang hendak mengikuti prosesi Paskah di Kota Larantuka, Pulau Flores. Salah satu dari kami mencoba untuk mendaftar ke rumah dinas Gubernur NTT untuk menanyakan kuota dan akhirnya kita dapat berangkat menggunakan kapal tersebut bersama ratusan umat katolik. Modal nekat kami tidak berhenti di sana. Ketika di kapal juga sempat berkenalan dengan salah satu reporter Kompas Tv yang hendak meliput prosesi Paskah di Larantuka. Ketika ditanya mau menginap di mana? Kami masih bingung hendak menginap di mana. 
Perjalanan dari Kupang menuju Larantuka ditempuh dalam waktu 12 jam. Menjelang subuh, saya menemani teman yang hendak melaksanakan solat di musola kapal. setelah itu ada dua orang bapak yang bertanya kepada kami. sepertinya beliau tahu kalau kami baru pertama kalinya ke Larantuka. Beliau bertanya, "ada acara apa ke Larantuka? Adeik-adik dari mana asalnya? Nanti mau menginap di mana selama di Larantuka?" Kemudian kami menjawab, "Kami adalah Guru SM-3T yang ditempatkan di Kabupaten Kupang yang berasal dari Pulau Jawa. Kami hendak liburan Paskah dan melihat prosesi Paskah yang ada di Larantuka dan berlibur ke beberapa kota di Pulau Flores, untuk penginapan kami belum tahu hendak menginao di mana. Meskipun ada teman kami yang bertugas juga di Flores Timur". Setelah obrolan itu, beliau langsung menelepon kerabatnya yang ada di Kota Larantuka untuk mengizinkan kami tinggal di sana selama liburan di Larantuka. Alhamdulillah.. tak henti-henti kami bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh-Nya.
Selama beberapa hari kami di Larantuka, keluarga Abah dan Umi dengan senang hati menerima kami seperti keluarganya. Beliau juga memberi banyak informasi seputar perayaan Paskah dan informasi mengenai kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain di Pulau Flores. Perayaan Paskah yang saya lihat sangat ramai. Saya sebagai seorang muslim melihat toleransi antar umat beragama yang baik wilayah Nusa Tenggara Timur. Umat Kristiani menjalankan ibadahnya dengan khidmat dan umat non kristiani menjaga keamaan selama berlangsungnya prosesi tersebut. Begitu juga sebaliknya ketika Umat Islam merayakan Idul Fitri, mereka bergantian menjaga keamaan supaya berlangsung dengan khidmat. Ini Indonesia dengan multi Agama, Bahasa, Suku dan Budaya. Indahnya kebersamaan dalam keberagaman. Saya bersyukur dapat berinteraksi dengan mereka dan merasakan tinggal di tengah perbedaan itu.
Okay! Selain melihat prosesi Paskah, kami juga bertemu dengan teman-teman seperjuangan SM-3T penempatan Flores Timur dari LPTK UNTAN dan UNIMA. Ada juga teman-teman dari UNNES yang sedang berlibur juga ke Larantuka. total ada 5 LPTK yang berkumpul dalam rangka liburan dan menjalis silaturahmi, UPI, UNJ, UNTAN, UNIMA dan UNNES... Yeah.. We are Big Family of SM-3T 2014. We also meet up with Abdur Arsyad parent's in his house. 



Perjalanan berlanjut menuju Kota Ende. Yeah... Selama di Ende juga kami menginap di rumah kerabatnya Abah dan Umi. Di Ende kami menuju rumah pengasingan Bung Karno, Taman Perenungan Pancasila, Danau 3 warna. Setelah itu lanjut ke Kabupaten Sikka. terpana dengan hamparan biru laut yang menyejukkan pandangan mata di Pantai Koka, Maumere dan kembali lagi ke Larantuka untuk menunggu kapal fery yang menuju Kupang. Liburan selama 10 hari dengan modal nekat dan keuangan terbatas dapat teratasi. Kami kembali menuju tempat tugas masing-masing dan sampai berjumpa di cerita liburan berikutnya. sebelumnya saya akan memperlihatkan beberapa foto selama berada di Pulau Flores. Bye bye.

taman perenungan pancasila

rumah pengasingan Bung Karno

Danau 3 Warna

Pantai Koka, Maumere




Tuesday, 7 June 2016

Holiday : Pulau Semau

 
Libur telah tiba dan saya bergegas menuju ke kota. Liburan untuk melepas penat dengan aktifitas mengajar dsb. Ketika murid di sekolah libur, Ibu dan Bapak guru ju ikut libur. Hehe.. Ini sepenggal kisah liburan semester pertama di bulan Desember 2014. Kami para Guru SM-3T berkumpul di LPMP untuk membahas acara seminar. Namun karena satu dan lain hal, acara tersebut dibatalkan. Akhirnya kami melanjutkan liburan semester yang juga bertepatan dengan libur Natal dan Tahun Baru 2015. Beberapa di antaranya ada yang berlibur ke perbatasan Indonesia-Timor Leste di Atambua, ada yang memilih tinggal di kota Kupang dan saya bersama teman yang lain berlibur ke Pulau Semau. 
Perjalanan menuju Pulau Semau menggunakan perahu dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dari pelabuhan tenau. Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 20.000,00 tiap orang, bila membawa sepeda motor dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 30.000,00. Selama di Pulau Semau, saya tinggal di rumah yang ditempati oleh Bapak Edyana dan Bapak Wiro yang bertugas di sana. Ketika kami bertugas di daerah 3T, ini salah satu dari bonus bagi kami untuk dapat menjelajahi wilayah Indonesia khususnya Nusa Tenggara Timur. Mari Kita lihat pesona keindahan alam yang disajikan di Pulau Semau.
 

The Best of Us

Saatnya kembali ke sekolah. Cerita tentang liburan nanti ada lagi ko. tak terasa sudah memasuki bulan April 2015. Agenda di sekolah adalah ujian praktek dan persiapan ujian sekolah untuk murid kelas 6. Libur Paskah telah berlalu. Namun guru dan murid belum semuanya hadir di sekolah. Kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dengan mengajar rangkap kelas karena guru juga terbatas. Pelaksanaan ujian praktek berlangsung dengan mendadak. Sebenarnya tidak mendadak, karena informasi yang sampai ke sekolah datang terlambat. Namun murid-murid kelas 6 sudah siap untuk melaksanakan ujian praktek ketika Kepala Sekolah membawa format penilaian untuk pelaksanaan ujian praktek. Ketika ujian praktek SBDP, kami sengaja menyamakan kostum yang digunakan murid-murid dengan menggunakan pakaian adat. Supaya lebih total dan memeriahkan ujian praktek. Seperti inilah keceriaan kami selama menjalankan setiap ujian praktek.

Pelaksanaan ujian praktek Agama Kristen

Ujian praktek PJOK




Ujian Praktek IPA



Ujian Praktek SBDP

Monday, 6 June 2016

Sayonara Tanah Timor (part 2)

Cerita dari Tanah Timor masih berlanjut :D

Setelah perpisahan dari Siumolo, saya melanjutkan perjalanan menuju kota Kupang. Tapi sebelumnya singgah dulu di Barate di tempat tugas Ibu Esti M. Istiqlal dan Ibu Yenni Friska. Ternyata sedang perpisahan juga. Woaaa... makan-makan lagi nih. hehe. Di sini juga ada Ibu Ermawati yang sudah lebih dulu tiba dari Amfoang Barat Daya. Kondisi di Barate sama seperti di Siumolo, tidak ada jaringan listrik dan signal. meskipun ini di kota kecamatan Fatuleu Barat. Menurut cerita dari warga sekitar, beberapa tahun lalu aliran listrik sempat masuk di daerah ini. Tapi karena alasan tertentu, aliran listrik tidak berjalan lagi. Masyarakat kembali menggunakan lampu tenaga surya. Saya juga mengamati daerah tersebut dan tiang listrik dan kabelnya juga masih terpasang di sana. Sedangkan untuk menara signal dari prvider tertentu juga sudah pernah ada dan kemudian di nonaktifkan. 

Okay! well kita lanjut lagi... Di Barate jalannya sudah di aspal. ini yang berbeda dari kondisi jalan di Siumolo yang belum di aspal. Kami asik berfoto dengan murid-murid di tengah jalan yang sepi seusai perpisahan di tempat Ibu Esti dan Yenni. Saya di sana menjadi fotografer dadakan untuk mengabadikan momen haru mereka dengan orang tua angkat, murid dan guru di sekolah, SMAN 2 Fatuleu Barat. Kilas balik setahun lalu, saya beberapa kali berkirim pesan dengan menuliskan surat yang dititipkan di supir bis yang hendak menuju kota Kupang. Kenapa berkirim pesan dengan surat? SMS atau telepon juga bisa? Yupz.. karena di Barate dan Siumolo tidak ada akses signal kecuali kita berjalan ke bukit ataupun ke pantai. Surat adalah media komunikasi dari Siumolo dan Barate. Ibu Esti sendiri sudah tahu bila mendapat surat dari Siumolo dengan ciri khas tinta biru. Sekarang surat-surat itu masih tersimpan di Ibu Esti.

Berikut ini adalah foto-foto selama di Barate. Beberapa foto di ambil dengan mengatur timer di kamera digital dan menumpuk beberapa buku hingga laporan kegiatan SM-3T sebagai alas kamera. Hehe. Hanya di sini kami bebas berfoto di tengah jalan. Sayonara Tanah Timor... 

Sayonara Tanah Timor (part 1)

안녕하세요.... 오래만이에요

Setelah beberapa bulan kembali ke tanah Jawa, baru sempat posting tulisan di blog. Yupz, dari pada berlama-lama menunggu, saya akan mulai bercerita.

Tak terasa masa tugas saya selama satu tahun sebagai Guru dalam program SM-3T di SD Inpres Siumolo sudah hampir selesai. Rasanya campur aduk sekali. Senang, karena akan kembali berkumpul dengan keluarga di Jawa. Sedih, karena akan berpisah dengan murid-murid, orang tua angkat dan masyarakat di Dusun Siumolo Desa Tuakau Kecamatan Fatuleu Barat Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Orang tua murid beserta guru-guru di sekolah mempersiapkan acara perpisahan untuk kami berdua (Saya dan Ibu Suci). Murid-murid membawa beras, sayuran, ayam, dll. Mereka semua bahu-membahu ikut membantu Mama mempersiapkan makan siang dan makan malam untuk acara perpisahan. Saya merasa terharu melihatnya. 
Hari itu saya baru kembali dari Naikliu, Amfoang Utara. Saya berkunjung ke tempat tugas teman sekalian mengantarkan titipan untuk musola di sana sebagai kenang-kenangan. Setibanya saya di Siumolo, saya langsung membantu Mama dan anak-anak yang sekiranya bisa saya lakukan. Selebihnya saya mengabadikan momen dengan foto-foto mereka. Makanan sudah siap, anak-anak dari kelas 1 SD sampai kelas 8 SMP beserta guru-guru dan orang tua murid makan bersama di kediaman Bapak Eliaser Alupan. Beliau adalah orang tua angkat kami selama tinggal di Siumolo.

Acara perpisahan dilanjut setelah solat magrib. Acara di awali dengan kata perpisahan dari perwakilan sekolah, tokoh masyarakat dan dari kami berdua tentunya. Saya hampir menitikkan air mata ketika menyampaikan kata-kata perpisahan pada murid-murid, guru, serta orang tua murid yang hadir. Saya merasa senang dan terharu. Selama setahun tinggal di Siumolo banyak pengalaman yang saya peroleh. Belajar bahasa timor, menyembelih ayam, hidup tanpa aliran listrik dan signal telepon, bahkan sempat terisolir di dusun karena jalan tidak dapat dilalui oleh kendaraaan akibat hujan yang mengguyur kabupaten kupang bulan januari 2015 lalu. Saya berterima kasih kepada semua warga Siumolo yang telah menerima kami berdua selama satu tahun ini. Sayonara Tanah Timor, semoga suatu hari nanti saya dapat berkunjung ke sana kembali. 



Monday, 5 October 2015

GELAMOR - Gerakan Lima Ribu untuk Timor


Selamat pagi Indonesia!!!
Bingung ya bagaimana caranya berbagi? atau bingung mencari orang yang tepat menerimanya?
Sekarang jangan bingung lagi ya. Perkenalkan program kami yang bernama "GELAMOR".
nah pasti sekarang nambah bingung apa itu GELAMOR?
Ok kami jelaskan ya.

GELAMOR itu singkatan dari "Gerakan Lima Ribu untuk Timor"
Program Ini merupakan salah satu program kerja kami dari guru SM3T LPTK UPI angkatan V yang bertugas di kab. Kupang-NTT tahun 2015. Gerakan ini kami buat guna menggalang dana dari masyarakat untuk membantu saudara-saudara kita di NTT khususnya di kab. Kupang dibidang pendidikan.  adapun jumlah nominal tidak terbatas, berapapun jumlahnya kami akan terima. selain itu juga dari semua kalangan bisa ikut berpartisipasi dalam program ini, mulai dari yang muda hingga yang tua.
Dana yang kami himpun nantinya akan kami gunakan untuk membantu pendidikan dengan membagi ke dalam dua bentuk bantuan. Yaitu:
1. Beasiswa bagi anak yang tidak mampu khususnya yatim piatu, berupa baju seragam dan alat tulis sekolah.
2. Bantuan sekolah berupa Alat peraga seperti kerangka manusia, globe, dll. Bahkan berupa Pembangunan gedung sekolah yang layak pakai, baik ruang kelas, perpustakaan maupun WC. Karena selama ini sekolah yang mereka gunakan adalah sekolah yg berlantaikan tanah, tembok dari pelupuh bambu, dan daun gewang sebagai atapnya. Serta tidak tersedianya WC. Seragam yang mereka gunakan, serta ketersediaan bukupun sangatlah minim. Namun semangat belajar mereka sangatlah tinggi.

maka dari itu melalui program GELAMOR, kami berharap saudara-saudara kita khususnya di tanah timor bisa merasakan pendidikan yang lebih layak.

Nah sekarang ingin tahu cara membantunya?
Caranya cukup mudah ko.
Bantuan yang kita berikan cukup dikirim langsung via rekening Mandiri di no (900-00-2993293-7) atas nama DINA OCTAVIANI.
atau bisa langsung konfirmasi di no
 1. 081224786325 an. SUHENDI (Koordinator ). Atau di no
2. 082216771434 an.  DINA OCTAVIANI (Sekum)

@Salam MBMI (Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia)

Monday, 13 July 2015

Semua Berawal Di sini Part 1

Semua berawal di sini. Tak pernah aku bayangkan sebelumnya kalau hal tersebut pada akhirnya menjadi sebuah kenyataan dan mempertemukan kita kembali dalam suasana yang berbeda. Sekitar bulan April 2014, tak sengaja aku scroll beranda facebook dan membaca status dari salah satu teman SMA bernama Shandra Kusuma D. Dia mencantumkan link blogspotnya. Aku tertarik untuk membacanya. Ternyata dia sedang berada di Menteng untuk pembekalan sebagai ODP di salah satu bank terkemuka di Indonesia.

Obrolan berlanjut sampai di twitter dan bertukar nomor telepon. Satu hal yang membuat aku intens ngobrol saat dia upload tiket keberangkatan ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Aku juga bilang sama dia semoga nanti ditempatkan tugas mengajar juga dekat dengan tempat kamu. Karena saat itu saya hendak mendaftar SM-3T di almamaterku dulu. Tahapan seleksi terus berlanjut sampai pada tahap prakondisi, berarti sudah dipersiapkan untuk berangkat ke daerah 3T. Seminggu sebelum prakondisi, Shandra menulis status bahwa dia pindah tugas ke Kupang. Sejak itu aku berdoa supaya kita berdua dapat dipertemukan di sana. Doa itupun terkabulkan. Saat pengumuman daerah penugasan, aku ditempatkan di Kabupaten Kupang. Aku langsung menghubungi Shandra karena akhirnya doa kita terkabulkan.

Hari keberangkatan menuju Kota Kupang sudah ditentukan. Sesampainya di sana, aku kembali menghubungi Shandra untuk bertemu. Maklumlah Nona yang satu ini sibuk dengan nasabahnya. Hehe. Yeah... we meet up at Tedis Beach for the first time and especially not in Java Island. Selama hampir satu tahun bertugas di sini, kita beberapa kali menyempatkan waktu untuk hang out melepas penat dari pekerjaan masing-masing. Thank you Shandra.. next month i'll be back to Java. :')


Semuanya berawal di sini, Kota Kupang mempertemukan kembali aku dan kamu. Thank God