Tuesday, 6 January 2015

Fiti yang jauh, Bu?

Menjelang akhir bulan November 2014, saya mengajak siswa di kelas 6 belajar di halaman sekolah. Saya hendak membelajarkan mereka mengenai pengaruh gaya dan gerak. Saya meminta dua orang siswa sebagai peraga. Siswa yang lain mengamati setiap gerakan yang saya instruksikan pada peraga. Peraga pertama bertugas sebagai penjaga gawang dan peraga kedua bertindak sebagai penendang bola. Di luar dugaan saya, ternyata mereka mengamati dengan baik dan dapat menjawab pertanyaan yang terdapat dalam lembar kerja.

Peragaan berikutnya menggunakan ketapel. Saya memberikan contoh penggunaannya pada mereka. Contoh pertama dengan gaya tarikan yang kuat agar gerakan yang dihasilkan semakin cepat. Sedangkan contoh yang kedua dengan gaya tarikan yang lemah agar gerakan yang dihasilkan menjadi lambat. Setelah saya memperagakan, saya juga meminta seluruh siswa untuk mencoba menggunakan ketapel supaya merasakan langsung bagaimana pengaruh gaya dan gerak yang dihasilkan.

Saat pelaksanaan pembelajaran itu, di Siumolo sedang musim buah mangga. Ketapel yang mereka bawa digunakan untuk mengambil buah mangga modok (muda) dengan menggunakan fiti (ketapel). Itu sekedar hiburan saja. "Bu, fiti yang jauh ko?" Tanya salah seorang siswa. "Silakan fiti yang jauh sampai melewati pagar sekolah, nak!" Seru saya pada mereka. Mereka lebih senang belajar di luar ruangan. Sesekali memang saya ajak mereka belajar di halaman sekolah supaya tidak jenuh.

Friday, 19 December 2014

Jalan Su Setengah Mati

Kamis, 4 Desember 2014 saya bersama ibu Suci dan Ibu Ria hendak menuju kota Kupang dari Siumolo. Perjalanan hari itu dalam kondisi hujan yang membuat jalanan becek dan berlumpur. Tak lama setelah kami naik bis, supir menyurh penumpang laki-laki untuk turun. Bis dan truk juga sudah berjajar menunggu antrian untuk melewati bukit kifenu. Ada truk yang tidak bisa nanjak karena jalan licin. Saya dan ibu Suci tetap duduk di dalam bis. Meski tahu segala resiko yang akan terjadi nantinya. Ibu Ria memilih turun dari bis. 

Supir bis menyuruh konjak (kondektur) naik ke bukit menaburi kulit padi dan membawa ganjal besi. Ketika sudah siap, supir segera menyalakan mesin bis dan melaju dengan gas cukup kencang supaya dapat melewati bukit tersebut. Dalam hati saya tak henti-hentinya untuk berdoa memohon keselamatan pada Allah. Karena di bukit ini sudah ada korban sebelumnya. Bukit ini juga yang sulit dilewati ketika musim hujan tiba seperti sekarang. Di sebelah kiri bukit, anak-anak sekolah dan masyarakat juga ikut melihat peristiwa semacam ini di setiap tahunnya. Alhmdulillah bis dapat melewati bukit dengan lancar.

Sepanjang perjalanan terus diguyur hujan dan membuat jalanan semakin berlumpur. Mendekati kota, hujan mereda. Ketika singgah di rumah makan, sempat bercanda juga denga para konjak yang sudah bekerja keras. Beginilah kondisi jalan yang harus saya lalui ketika musim hujan. Becek dan berlumpur. Jalan su setengah mati lai... saya baru beberapa bulan sudah mengalami hal seperti ini. Sedangkan teman kakak saya yang dinas di kecamatan Amfoang Utara sudah 6 tahun merasakan jalanan seperti itu. Ketika musim kemarau, jalan menjadi penuh debu. Tak heran kalau hujan sudah semakin deras daerah tugas saya akan terisolir. Hanya satu bis saja yang akan beroperasi dengan harga yang sudah berlipat. Untuk menuju kota saja butuh waktu sampai 2 hari menunggu sungai surut.
kondisi jalan di musim kemarau


kondisi jalan musim hujan

Foto bersama salah satu konjak bis
Ini adalah foto kami setelah makan siang di warung makan.


Bu, hari ini belajar ko?

Foto dari folder Ibu Dina Herawati, S.Pd

"Bu, hari ini belajar ko?" Ada anak-anak yang bertanya seperti itu kepada saya ketika melihat guru yang hadir hanya 3 orang saja. Dua orang guru SM-3T dan satu orang guru SMP Satap Siumolo. Wajar saja mereka bertanya seperti itu pada saya ataupun pada guru yang lainnya. Sebelum guru SM-3T datang di SD Inpres Siumolo, anak-anak datang ke sekolah hanya bermain dan pukul-pukul batu di jalanan depan sekolah. Mereka tidak tahu membaca, menulis dan berhitung. Guru-guru yang mengajar mereka ada yang melanjutkan kuliah, ada juga yang berkebun dan menggembala ternaknya.

Pada tahun 2013, sekolah ini mendapatkan 2 guru SM-3T yaitu ibu Rin rin dan ibu Dina. Beliau membawa perubahan yang positif terhadap anak-anak di sekolah. Anak-anak tidak lagi pukul-pukul batu ataupun bermain di sekitar sekolah. Mereka belajar membaca, menulis dan berhitung. Selain itu, pelaksanaan upacara bendera baru dilaksanakan ketika guru SM-3T bertugas di sana. Menurut penuturan salah seorang tokoh masyarakat, bahwa baru kali ini saya melihat upacara bendera dan mendengarkan suara anak-anak menyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Miris sekali rasanya ketika mengetahui hal tersebut. Selama berpuluh tahun sekolah ini berdiri, lagu Kebangsaan jarang terdengar bahkan tak terdengar sama sekali.

Di tahun 2014 ini merupakan tahun kedua di sekolah ini mendapatkan guru SM-3T yang bertugas selama satu tahun. Melihat kondisi seperti itu, saya meneruskan kembali usaha yang telah dirintis oleh rekan guru SM-3T pada tahun sebelumnya dan menambahkan hal-hal baru yang bermanfaat bagi anak-anak di sekolah. Meskipun hanya sedikit guru yang datang mengajar, saya pantang untuk mengeluh dan menyerah untuk memberikan pengetahun baru bagi anak-anak. Rombel kelas dan suara serak tetap saya lanjutkan untuk mengajar mereka. Bagaimanapun juga mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Seperti itulah kondisi di Tanah Timor. Sampai berjumpa di cerita selanjutnya ;)

Monday, 27 October 2014

Mendidik, Mencerdaskan Indonesia

Picture by Arinda Risa Kamal
(Guru SM-3T SMPN 4 Fatuleu Barat)

Hai kau pemuda dan pemudi
Harapan ibu pertiwi
Mari kita raih prestasi
Bersama kita membangun negeri
Jadilah pendidik yang berdedikasi
Mengabdi ke pelosok negeri
Mendidiklah dengan setulus hati
Agar tercipta generasi mandiri

Mari kita maju bersama
Mencerdaskan Indonesia
Menjadi sarjana mendidik bangsa
Menujulah yang terdepan
Gapai mereka yang terluar
Jangkaulah mimpi-mimpi yang tertinggal
Demi terwujudnya generasi emas Indonesia

Lirik di atas merupakan Mars SM-3T. Dari lirik lagu di atas mengajak pemuda dan pemudi Indonesia untuk bergerak bersama-sama mencerdaskan anak-anak bangsa yang berada di pelosok negeri. Anak-anak bangsa memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Karena kelak pada saat Indonesia emas, anak-anak inilah yang akan meneruskan estafet kepemimpinan di berbagai bidang. Dengan semangat sumpah pemuda, saya bersama rekan-rekan Guru SM-3T akan terus berjuang untuk mencerdaskan anak bangsa di tengah keterbatasan yang ada di lapangan. Ini semua untuk kejayaan Indonesia. Kini bukan saatnya hanya berpangku tangan saja tanpa suatu tindakan yang nyata. Mari kita maju bersama untuk Indonesia tercinta dalam berbagai bidang sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.
Keceriaan anak-anak Indonesia
At SD Inpres Siumolo, Fatuleu Barat
Picture by @titinkomalasari

Sunday, 26 October 2014

Biulnoni

Baru beberapa minggu tinggal di Siumolo, Kecamatan Fatuleu Barat, akupang, saya mendapat undangan pesta pernikahan dari salah satu rekan guru di sekolah. Pesta pernikahan tersebut beliau adakan untuk adiknya. Beberapa hari sebelum pesta, saya dilatih untuk berdansa. Karena ini pertama kalinya untuk saya, jadi saya memperhatikan dengan sungguh - sungguh gerakan dansanya.

Acara pesta di buka dengan polonice (semoga tulisannya benar). Polonice ini harus berpasangan laki-laki dengan perempuan. Pasangan berurutan dari pengantin, keluarga serta kerabat. Siapapun pasangannya, kalau sudah dipanggil untuk polonice harus mau. Malam itu, saya dipasangkan dengan rekan guru SM-3T juga, namun karena ada sesuatu hal jadi dibatalkan dan diganti dengan adik Bapak Kepala Desa Nuataus. Ibu bidan Hasryah dan Ibu Suci juga ikut polonice. Ibu bidan berpasangan dengan Bapak Kepala Desa Nuataus, sedangkan Ibu Suci berpasangan dengan Bapak Pendeta Dony. Pengalaman pertama untuk berdansa, sedikit kaku juga. Hehehe

Setelah itu, baru biulnoni. Biulnoni merupakan uang yang ditaruh pada lidi yang ditancapkan di atas kepala pengantin perempuan. Semua keluarga berkeliling sambil menari membuat lingkaran. Ini khusus untuk keluarga, namun bila ada anggota keluarga yang memberikan selendang kepada tamu,, maka orang tersebut harus memberikan uang kepada pengantin dengan cara yang tadi. Saya termasuk orang yg diberikan selendang oleh keluarga pengantin. Repotnya pas ngga ada uang ribuan. Jadi dipinjamkan dulu sama istri Bapak mantan kepala desa.

Selain polonice dan biulnoni juga ada acara dansa dan dugem. Saya menghadri pesta sampai pukul 01.00

Wednesday, 8 October 2014

gara mangga modok, kepala bocor

Tak terasa sudah masuk bulan kedua saya berada di Kupang. Ada bebeberapa kejadian selama saya mengajar di SD. Salah satunya adalah kepala bercucuran darah karena tak sengaja terkena lemparan batu dari kaka kelasnya.

Saat itu saya dengan suci sedang makan di Pustu. Tiba-tiba ada mama yang berteriak kalau ada anak yang kepalanya bocor. Saya langsung berlari keluar dan melihat kondisi anak sambil membawa piring berisi makanan. Anak tersebut ternyata siswa kelas 2. Dia datang sendiri ke Pustu begitu menyadari kepalanya terluka. Bu bidan kira, kepalanya harus di jahit. Setelah di bersihkan, ternyata hanya luka saja dan tidak harus di jahit.

Berdasarkan penuturan mama, dia sedang melintas di depan pohon mangga sendirian. Tiba-tiba ada kaka kelasnya yang sedang melempar buah mangga dengan menggunakan batu. Sasaran meleset dan terkena kepala nona kecil itu. Semoga tidak ada lagi yang mengalami perdarahan di jam sekolah. Hehe

Friday, 3 October 2014

Pesiar Pi Signal

Menurut adik sepupu saya, daerah 3T diterjemahkan menjadi Tutah, Tekali, Tignal. Karena di daerah penempatan saya di Siumolo memang tidak ada signal. Terus kalau mau menghubungi keluarga bagaimana? Saya harus berjalan kaki kurang lebih 2 km ke arah pantai. Di sana signal berasal dari kecamatan Amfoang Barat Daya. Signal 3G lho, hehe. Bisa BBM, WA, pokoknya cek medsos bisa. *Mulai kalap :p. Selain ke daerah pantai, pesiar pi signal juga bisa ke atas bukit dengan waktu tempuh 30 menit dari rumah. Jalurnya seperti di CIC Lembang saat prakondisi. Naik sedikit mah sudah biasa. Cieeee prakondisi berkesan. Kalau di bukit, signalnya berasal dari kecamatan Amfoang Selatan. Di sini juga signalnya 3G. Hehe. Suka duka SM-3T menikmati suasana tanpa listrik dan signal. Sekalinya pesiar ke kota aja langsung kalap signal. Hahaha
Perjalanan menuju bukit signal

Narsis di pantai. Hehe

Ini yang membuat saya betah berlama-lama duduk di pantai.